TRANS SIBERIAN & TRANS MANCHURIAN RAILWAY (12) – KAZAN

Pemandangan tepi sungai Kazan

 

 

Kazan adalah ibukota Republik Tartarstan. Walaupun tetap merupakan bagian dari Federasi Russia, Republik Tartarstan mempunyai presiden sendiri dan juga mempunyai aturan hukum sendiri. Mungkin seperti negara bagian di Amerika Serikat.
Thomas dan saya hanya tahu tentang penduduk Kazan yang mayoritas keturunan orang Turki dan beragama Islam. Kami bisa tahu hal lain tentang Kazan dari teman Cs (couchsurfing) Olesya dan Marat yang menjadi giude dadakan untuk kami 🙂
Flash back sedikit, kami sampai di stasiun Kazan sekitar jam 3 sore. Kebetulan teman baru kami dari Australia juga mau mengunjungi Kazan dan menginap di hostel yang sama dengan kami yaitu di Gorky 6 Hostel. Lokasi hostel ini lumayan jauh dari stasiun kereta api. Saya sudah siap dengan peta yang saya gambar sendiri (irit tinta printer) dan sempat mempelajari jalan menuju hostel di Google Earth. Tapi karena lelah atau memang otak saya waktu itu sedikit error jadi saya kesulitan memahami arah. Untung sebelum kami keluar stasiun teman kami mengeluarkan senjata ampuhnya yaitu Iphone dengan GPS.

Thomas dan saya agak anti membawa gadget canggih yang mahal selama traveling. Bukan apa-apa sih… alasan kami sederhana saja. Takut hilang hehehe… GPS walaupun lebih ‘pintar’ memandu jalan dibandingkan peta cetak (apalagi peta saya yang gambar sendiri) tapi punya kekurangan juga yaitu tidak ada petunjuk tempat-tempat bagus yang perlu dikunjungi. Selain itu ada kalanya GPS salah tunjuk dan lebih sering kurang tepat menandai sebuah lokasi.
Kami berjalan mengikuti petunjuk GPS dan sukses sampai di Jalan Gorky tapi tidak bisa menemukan hostelnya. Akhirnya kembali lagi membuka peta saya dan kami berhasil menemukan hostel yang super nyaman dan bersih itu.
Di Kazan waktu itu pilihan hostel tidak banyak. Kami memilih Gorky 6 karena rating di Hostelworld cukup tinggi sekitar 8 point. Tapi menurut kami hostel ini patut diberi rating 10. Tapi karena tidak ada yang sempurna di dunia ini jadi 9.5 mungkin lebih cocok hehehe…
Setelah mandi lama (maklum 3 hari badan tidak kena air) kami tiduran sebentar di kasur yang super empuk. Kalau saja tidak ada janji bertemu dengan Olesya kami pasti sudah tidur pulas sampai pagi. Olesya adalah satu-satunya Cser Kazan yang membalas post saya di Kazan Cs forum.
Kami bertemu Olesya di mall Koltso di Baumana Street. Olesya yang menentukan tempat pertemuan kami ini karena menurut dia semua orang Kazan pasti tahu Baumana Street. Jalan ini memang jalan turis 🙂 seperti Orchard Road di Singapore atau Malioboro di Jogja. Ada sebagian ruas jalan yang tertutup untuk kendaraan bermotor. Di beberapa lokasi ada penjual kaki lima yang menjual cenderamata dan perlengkapan untuk musim dingin. Saya membeli sarung tangan murah berkualitas bagus dan souvenir sendok kecil cantik disini.

 

Perumahan di tepi sungai Kazan

 

Olesya mengajak kami jalan-jalan ditepi sungai Kazan lalu kami makan malam di restoran kecil di Baumana Street. Nama restoran ini Chak Chak atau kalau ditulis dengan huruf Cyrilic mirip seperti Yak Yak. Chak Chak sebenarnya adalah nama makanan ringan khas Kazan. Bentuknya seperti makaroni goreng dicampur dengan karamel jadi seperti Brondong atau Jipang kalau di Jawa Tengah.
Waktu kami makan Olesya agak sibuk dengan HPnya. Ternyata dia menunggu teman Cs yang juga mau menemani kami jalan-jalan. Tidak lama kemudian ada seorang cowok tampan mendatangi kami. Namanya Marat, teman yang dikenal Olesya melalui couchsurfing. Anak ini (saya sebut anak karena jauh lebih muda dari saya) kelihatan sekali kalau ada yang salah dengan otaknya. Salahnya yaitu jauh lebih pintar dari otak orang kebanyakan 🙂 Marat banyak cerita tentang dirinya karena Thomas penasaran bagaimana bisa anak yang masih mudah sudah bergelar master dan punya pengalaman kerja bertahun-tahun.

 

Sts. Peter and Paul Cathedral

 

Selesai makan malam kami jalan ke Sts. Peter and Paul Cathedral tapi tidak bisa masuk karena sudah tutup. Lalu kami menuju bekas kampusnya Olesya tapi tidak bisa masuk karena rayuan Olesya tidak mampu meluluhkan ibu penjaga pintu. Waktu itu sudah malam sekitar jam 8 tapi kampus Olesya masih ramai dengan mahasiswa dan dosen. Beda sekali dengan kampus saya dulu yang langsung sepi setelah jam 6 malam karena berhantu hehehe…
Karena ibu penjaga tetap tidak mengijinkan Thomas dan saya masuk maka kami melanjutkan jalan-jalan di area Kremlin. Thomas sudah ngebet banget untuk melihat interior masjid Kul Sharif yang berada di tengah Kremlin tapi sayang sekali malam itu masjid sudah ditutup. Olesya dan Marat kumat isengnya mengajak kami memanjat pagar Kremlin. Kami bisa melihat keindahan Kazan di malam hari dari tembok Kremlin tapi sayang sekali kamera saya tidak mampu merekam keindahannya 🙁

 

Jalanan di dalam Kazan Kremlin.

 

Masjid Kul Sharif di malam hari.

 

Di area Kremlin ini ada gereja Katholik Orthodok tapi juga tutup. Juga ada gedung kepresidenan dengan penjagaan yang biasa saja. Jauh lebih ketat penjagaan stasiun Zabaikalsk. Mungkin tidak pernah ada ancaman keamanan serius jadi tidak perlu penjagaan ketat.

 

Suyumbike Tower di depan gedung kepresidenan

 

Olesya memberi tahu kami kalau presiden yang sekarang menjabat tinggal di gedung tersebut dan mantan presiden tinggal di area dekat Kremlin jadi ada joke di masyarakat Kazan bahwa presiden yang menjabat tetap diawasi oleh mantan presiden yang sudah lengser. Menurut Olesya dia merasa puas dengan pemerintahan presiden yang sekarang menjabat dan mantan presiden sebelum ini karena mereka mampu menyatukan orang Tartar dan orang Russia. Dulu sering terjadi kerusuhan antar etnis tapi sekarang tidak pernah terjadi lagi.
Kami melanjutkan obrolan tentang Tartarstan di sebuat kafe di Baumana Street. Jadi sepertinya kemanapun kami pergi mangkalnya tetap di Baumana Street 🙂

 

Hotel di Baumana Street

 

Marat bertanya apakah kami merokok karena di cafe itu ada non smoking area. Tentu saja kami memilih duduk di non smoking area. Olesya menyarakan kami memesan bir saja karena kafe ini mempunya berbagai macam bir. Saya menolak memesan bir dan lebih memilih jus yang ternyata rasanya tidak enak dan akhirnya saya menghabiskan bir rasa karamelnya Olesya hehehe…
Di cafe itu kami ngobrol tentang banyak hal dan sampai juga ke topik yang paling menarik yaitu tentang orang Tartar. Thomas yang orang kaukasia langsung tahu kalau Marat bukanlah orang kaukasia. Saya kaget sekali waktu dengar kalau Marat adalah orang Tartar. Bagi saya muka mereka bertiga sama saja. Sama-sama berwajah bule. 


Sebagian orang Tartar adalah muslim yang taat tapi sebagian lain tidak menjalankan perintah agama dengan baik. Di Kazan memang banyak perempuan berjilbab tapi yang saya lihat sepertinya tidak sebanyak di Paris. Saya tidak merasakan keislaman yang kuat di kota ini. Mungkin karena saya besar di Indonesia ya. Sedangkan Thomas mungkin beda pendapat dengan saya. Karena malam itu dia tidak berhasil masuk ke masjid jadi keesokan harinya acara jalan-jalan kami agak fokus untuk mencari masjid 🙂

 

Masjid Kul Sharif yang berada di dalam area Kazan Kremlin

 

Olesya dan Marat harus bekerja siang hari jadi hari berikutnya Thomas dan saya jalan-jalan sendiri mengukuti peta dan buku panduan yang kami dapat dari hostel. Thomas maunya melihat semua tempat yang ada di buku panduan. Waktu di Irkutsk saya mau saja mengikuti Thomas tapi sampai di Kazan kaki kanan saya sakit sepertinya karena salah posisi mendarat waktu melompati genangan air dan tumpukan material di stasiun Kazan.
Saya memilih duduk di taman menunggu Thomas yang saking pengennya masuk ke masjid jadi dia bolak balik ke masjid Kul Sharif. Menjelang waktu sholat Ashar saya menyuruh dia kembali ke Kremlin siapa tahu masjidnya dibuka. Tapi sayang tutup. Mungkin sedang direnovasi. Kasiannya anak ini gagal lagi 🙁 sebenarnya waktu Dzuhur kami sempat melewati salah satu masjid di luar Kremlin tapi dia tidak enak masuk karena beberapa orang sedang sholat. Ya itulah susahnya melihat tempat ibadah. Walaupun sangat ingin masuk tapi respect yang harus tetap diutamakan.
Ketika kami berjalan menuju hostel saya melihat papan reklame restoran Tartarstan. Saya mengajak Thomas makan siang di restoran itu. Begitu buka pintu langsung terdengan alunan sholawat. Interior restoran ini mirip dengan restoran Timur Tengah. Ada ruang khusus untuk pengunjung perempuan yang disekat tirai tipis. Kami suka sekali dengan masakan Tartarstan di restoran ini. Selain enak harganya juga murah. Sekitar 6SGD untuk main course dan minuman.

 

Sayang sekali kami tidak bisa menemukan restoran lain yang seperti ini. Akhirnya untuk makan malam terakhir di Kazan kami kembali ke Chak Chak 🙂
Setelah makan malam kami kembali ke hostel untuk mengambil ransel. Resepsionis hostel menawarkan taxi ke stasiun kereta seharga 100 Ruble (3 SGD) per mobil. Saya langsung mengangguk dan minta di booking kan. Kaki kanan saya sakitnya makin menjadi. Saya hanya ingin cepat sampai di stasiun tanpa harus jalan jauh nggendong ransel pula.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *