TRANS SIBERIAN & TRANS MANCHURIAN (2) – BEIJING & TRAIN NO.19

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan soal Beijing karena saya memang tidak ada niat untuk menjelajah kota ini. Well… mungkin nanti kalau saya ada waktu dan dana untuk traveling di China, saya akan mengalokasikan 3-4 hari untuk jalan-jalan di Beijing.

Saya sampai di Beijing tgl 22 September 2012 jam 1.30 dini hari dan sudah harus naik kereta ke Rusia di hari yang sama jam 11 malam jadi kurang dari 24 jam saya di Beijing. Waktu yang singkat jadi saya hanya bisa jalan-jalan ke Tian An Men dan sekitarnya. Rencana semula saya mau masuk Forbidden City tapi begitu melihat antrian di pintu masuk saya langsung mundur hehehe…

 

 

Saya menginap di Sunrise Hostel (Tian An Men) yang lokasinya sangat strategis. Dekat dengan 2 stasiun subway, ke Forbidden city dan Tian An Men bisa jalan kaki, mau jajan di Night Market juga dekat dan yang penting hostel ini dekat dengan kantor CITS tempat dimana saya harus menukarkan voucher tiket kereta (semacam e-ticket) dengan tiket yang asli. Sebenarnya penukaran voucher hanya bisa dilakukan hari senin – jumat jam 8.00 – 17.00 tapi karena saya sampai di Beijing hari Sabtu jadi petugas yang mengurus voucher saya (namanya Cui Qing) menitipkan tiket asli ke bagian customer service yang buka hari Sabtu. Saya puas sekali dengan pelayanan Cui Qing karena dia selalu membalas email saya dengan cepat dan instruksi bagaimana dan dimana tempat penukaran voucher juga dia jelaskan dengan sangat jelas.
Setelah dapat tiket asli saya jalan-jalan santai lalu masuk ke salon untuk potong poni hehehe… Saya suka nyalon di China karena pelayanan dan hasilnya lebih bagus dari di Singapore dan ongkosnya juga lebih murah 🙂 Nah point plus acara nyalon di Beijing kemarin adalah tukang potongnya ganteng banget! Dan tentunya tidak terlihat ‘melambai’ entah aslinya hehe…
Malam jam 9 saya check out dari hostel. Dengan langkah pasti karena rambut sudah rapi saya cari taksi di pinggir jalan besar. Sebenarnya naik subway ke Beijing Railway Station (BRS) juga gampang tapi karena ongkos  taksi di Beijing jauh lebih murah dari Singapore jadi saya pilih naik taksi. Ongkos taksi dari hostel ke  BRS cuma 10 Yuan alias 2 SGD! Murah ya… memang lumayan dekat sih jaraknya. Nah yang ‘jauh’ itu jalan dari tempat turun taksi ke pintu masuk stasiun.
Agak lama saya muter-muter halaman depan stasiun karena bingung kok orang-orang masuk lewat deretan loket dengan pagar besi seperti kalau mau masuk stadion. Saya mencoba masuk dari pintu lain yang sepi sambil menunjukan tiket kereta tapi petugas yang jaga menyuruh saya antri dan masuk lewat loket berpagar besi itu. Jadi tidak ada perbedaan perlakuan walaupun saya calon penumpang kereta internasional.
Begitu masuk main hall saya lebih bingung lagi karena saya tidak lihat pengumuman kereta no. 19 berangkat dari platform mana. Di sebuah counter ada monitor kecil yang sepertinya menampilkan jadwal keberangkatan kereta. Saya melihat K19 disitu tapi tulisan yang lain hanya dalam bahasa Mandarin jadi saya tanya ke mbak calon penumpang yang sedikit bisa bahasa Inggris. Dia bilang sepertinya di platform 14 tapi dia tidak tau jalan ke platform 14. Lalu dia membantu tanya ke petugas stasiun. Dengan terbata-bata dan campur dengan bahasa Tarzan dia bilang kalau saya harus ke lantai 2 dan jalan mengikuti petunjuk ke platform 14.
Setelah mengucapkan terima kasih saya lalu naik ke lantai 2. Disitu saya lihat petunjuk menuju platform nomor 1 sampai 8 kalau tidak salah. Pokoknya tidak ada no. 14. Mau tanya orang semua terlihat terburu-buru menuju platform masing. Lalu saya lihat ada 4 orang bule dan 1 orang China yang sepertinya tour guide. Saya langsung ikut jalan dibelakang mereka dan setelah melewati lorong panjang dan agak gelap akhirnya sampai juga di pintu ke platform 14.
Model stasiun ini kalau saya bilang seperti bandara dengan gate untuk boarding. Jadi penumpang tidak menunggu kereta di peron stasiun. Penumpang bisa masuk peron hanya setelah pintu ‘gate’ dibuka. Di tiket kereta ada tulisan ‘passenger to check in 40 minutes before departure’ tapi tidak ada counter check in disitu. Calon penumpang lain juga saya lihat tidak memegang sesuatu seperti boarding pass. Saya lalu tanya ke cewek bule tapi dia jawab ‘Sorry no English’. Iiihhhh… cantik-cantik tidak bisa bahasa Inggris *sirik!
Pintu gate dibuka jam 22.45. Saya tidak langsung antri tapi memperhatikan cara penumpang lain masuk dan ternyata penumpang cukup menunjukkan tiket ke petugas. Tiket distempel lalu penumpang turun ke platform lewat tangga yang ramp-nya sempit sekali hanya cukup untuk troli kecil. Ada bapak-bapak yang terpeleset dan ikut meluncur ke bawah bareng dengan trolinya. Jadi saran saya bawalah ransel jangan troli 🙂
Sampai di platform saya menunjukan tiket saya ke provodnitsa di beberapa gerbong dan hanya mendapat jawaban ‘No’. Jadi saya jalan menyusuri peron mencari gerbong sesuai yang tertera di tiket. No kereta dipasang di jendela gerbong dekat bordes tapi karena gelap jadi saya tidak lihat. Heran deh sama Beijing, kotanya begitu gemerlap dengan cahaya lampu tapi kok stasiun gelap dan suram.
Setelah mendapat gerbong yang benar saya menunjukan tiket dan paspor ke provodnitsa lalu boleh naik ke gerbong. Tadinya saya pikir saya akan menempati kompartemen (dan gerbong) saya sendirian karena sudah jam 22.58 tidak ada penumpang lain. Tiba-tiba datang 2 cewek bule membawa troli super besar masuk ke kompartemen saya. Kalimat perkenalan mereka: ‘Sorry for all these but after this we’ll be very quite. I promise you!’ Saya cuma bisa bilang OK sambil terus melihat mereka mengangkat troli ke ruang penyimpanan atas. Saya tidak bergerak sedikitpun untuk membantu mereka karena trolinya kelihatan berat sekali dan kalau membantu pastinya percuma saja. Lha wong backpack saja saya batasi hanya 5 kg sesuai dengan kemampuan mengangkat dan menggendong haha…
2 cewek itu adalah Laura dan Mandy asal USA tapi tinggal di Taiwan dan mereka naik kereta dalam rangka pindahan ke Berlin. Mereka tinggal beberapa hari di Beijing di hostel dekat stasiun tapi sopir taksi yang mereka tumpangi mengantar mereka ke stasiun lain. Setelah marah-marah dan memaksa untuk diantar ke BRS akhirnya mereka sampai 10 menit sebelum kereta berangkat. Saya cuma bisa bengong mendengarkan cerita mereka. 10 menit untuk jalan dari taksi, turun naik tangga underpass, jalan ke platform, turun tangga ke peron… dengan troli sebesar dan seberat itu… OMG!!!
Untung Cui Qing menuliskan BRS dalam huruf China di amplop tiket saya jadi saya tinggal menunjukkan ke sopir taksi dan semua lancar tanpa acara nyasar 🙂
Malam itu gerbong kami hanya terisi Laura, Mandy, saya dan 2 provodnitsa. Baru setelah sampai Harbin ada penumpang lain di gerbong kami. Kami bertiga benar-benar tidak tau apa-apa soal kereta Trans Manchurian jadi ketika provodnitsa memberi sebungkus plastik berisi 2 lembar kain, 1 sarung bantal dan 1 handuk kami bingung itu untuk apa saja. Menurut Mandy yang seperti handuk itu kain ekstra untuk melapisi sarung bantal (?) Kami berpendapat kalau salah satu dari 2 kain lebar itu pasti untuk quilt cover tapi kok tidak ada lubangnya. Saya menutup tempat duduk (tempat tidur) dan sandarannya dengan kain yang paling lebar. Laura ikut-ikutan cara saya. Lalu 1 provodnitsa masuk dan menunjukkan cara melipat sandaran jadi tempat tidur. Kami cuma bisa ooooo… dan aaaa…. lalu bilang ‘Spasiba’ (thank you). Kalau sandaran dilipat tempat duduk (tempat tidur) jadi lebih lebar sedikit dan kami bisa membuka 3 kotak kecil di atas sandaran yang bisa dipakai untuk menyimpan barang-barang kecil dan menggantung handuk.
Di kompartemen kami ada TV flat kecil tapi ketika saya tanya provodnitsa cara menyalakannya dijawab ‘no work’ hhhmmm… jadi cuma pajangan saja 🙁
Beberapa jam setelah meninggalkan stasiun Beijing, provodnitsa memanggil kami keluar kompartemen dan menunjukkan Time Table. Dia bilang ‘Little English’ lalu menjelaskan dengan bahasa Inggris patah-patah campur bahasa Rusia kalau waktu yang tertera di Time Table memakai 2 zona waktu. Dari Beijing sampai Manchuria (Man Zhou Li) sesuai dengan waktu Beijing dan dari Zabaikalsk sampai Irkutsk sesuai dengan waktu Moscow. Saya bengong… jadi jadwal sampai Irkutsk jam 13.42 itu adalah waktu Moscow?? Saya salah perhitungan karena di website CITS ditulis ‘Local Time’ tapi saya tidak teliti membaca. Tulisan lengkapnya adalah ‘Departure time is in local time’.
Saya langsung membuka magic book saya mencari no HP hostel di Irkutsk lalu kirim SMS kalau saya akan check in sekitar jam 7 malam bukan jam 2 siang (Irkutsk lebih cepat 5 jam dari Moscow). Saya jadi khawatir dengan registrasi visa karena saya sampai Irkutsk kantor pos sudah tutup dan paginya saya akan ke Olkhon Island dan saya tidak tau apa bisa registrasi visa di Olkhon Island.
Saya tidak cerita soal ini ke Laura dan Mandy karena mereka di Rusia kurang dari 7 hari jadi tidak perlu registrasi visa. Aturan soal ini tidak jelas jadi silakan teman-teman mencari info yang lebih lengkap dan terjamin kebenarannya. Setahu saya kalau tinggal di wilayah Rusia lebih dari 7 hari harus registrasi paling tidak sekali. Kalau pindah ke kota lain dan tinggal di kota tersebut lebih dari 3 hari harus registrasi ulang. Soal registrasi visa memang membingungkan dan ini jadi topik yang dibicarakan ketika ketemu traveler lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *