TERJEBAK BADAI SALJU

Ini salah satu foto favorite saya. Diambil pas lagi salting di Stasiun Takayama nunggu kereta ke Nagoya yang gak jelas kapan datangnya. Semua kacau, semua unpredictable… gara-gara badai salju.

 

Rencana semula saya mau naik bus dari Takayama ke Tokyo. Harga tiket bus jauh lebih murah dari tiket kereta jadi yaaa… why not? Ehhh… lha kok alam punya rencana lain. Jalan menuju Tokyo ditutup karena timbunan salju. Lha tiket bus aye pigimane dong?!!! Refund di kantor terminal bus Takayama.

 

Pak petugas bilang kalo saat itu satu-satunya cara untuk ke Tokyo adalah dengan naik kereta ke Nagoya dan ganti dengan Shinkansen ke Tokyo. Mampus! Keluar duit 2x lebih banyak deh jadinya. Untung saya masih bisa dapet tiket kereta untuk ke Tokyo. Ini kali pertama bayar tiket mahal (Shinkansen) tapi pengalamannya kayak naik kereta ekonomi. Saya terpaksa harus berdiri di dekat pintu karena itu satu-satunya tempat yang masih ada. Kereta penuh sesak. Dan karena rel yang tertutup salju tebal jadi jalannya kereta pun diperlambat.

 

 

Jalanan Takayama yang tertutup salju.

 

Sampai Tokyo saya langsung ke hostel. Sebelum check-in saya tanya ke receptionist nya apa ada kemungkinan kalau transport ke Narita gak beroperasi karena badai salju tapi mbak staff yang cantik bilang kalo kereta dari Tokyo ke Narita pasti beroperasi apapun yang terjadi. Yasud… tenang dong saya. Tadinya kalau ada kemungkinan gak beroperasi saya mau langsung aja ke Narita malam itu juga dan nginep disana. Angusin bookingan hostel semalem gpp deh dari pada gak bisa terbang balik ke Singapore.

Karena mbak receptionist bilang untuk gak kuatir jadi ya saya mutusin untuk tidur di hostel aja. Abis check in saya langsung keluar buat jalan-jalan. Pikir saya… ‘yang kayak gini dibilang badai salju?!’ Menurut saya saljunya tuh biasa-biasa aja sih. Dan jalanan juga gak sepi-sepi amat kok. Malah ada anak-anak pada main salju.

 

Jalanan Tokyo yang tertutup salju.

 

Toko makanan yang masih tetap buka.

 

Salah satu kuil kecil di Tokyo.

 

Saya jalan-jalannya cuma sebentar. Di seputar hostel saja. Trus balik ke hostel dan baru nyadar kalau mantel (wool) udah basah karena salju yang mencair. Untung ada tempat jemur di hostel jadi mayan lah agak-agak kering dikit besoknya.

 

Paginya saya check out awal. Jaga-jaga kalau ada apa-apa. Dan ternyata benar sodara-sodara!!! Gak ada kereta yang ke Narita! Rel tertutup salju tebal dan gak bisa dilewatin kereta. Bapak petugas di stasiun subway kasih tau untuk coba ke Tokyo Station dan naik bus dari sana.

 

Okeeee… manut dong saya. Eh sampai sana gak ada bus yang ke Narita. Hiks…

 

Satu-satunya cara adalah naik taksi. Trus antrilah saya bersama orang-orang yang terlihat di foto dibawah ini. Antri sejam. Sebenernya banyak taksi datang silih berganti tapi beberapa pada gak mau anter ke bandara. Macet di tol katanya.

 

 

Pas antri taksi saya kenalan sama cowok Jepang yang akan ke Korea. Kami sepakat share taksi. Gak lama ada cowok bule (saya lupa dari mana) yang nanya kami apa mau share sama dia. Abis tu ada cowok Amerika yang nanya juga. Jadi berempat kami nunggu dan berharap ada taksi yang mau antar kami ke Narita. Dan… setelah ditolak beberapa sopir akhirnya ada sopir yang bersedia antar kami.

 

Awal masuk tol jalanan masih lenggang tapi sekitar 10 menit kemudian kami terjebak macet sampai berapa ya… 6 jam kali ya. Si cowok Amerika sampai minta ganti pesawat 3x. Dia sih kaya… naiknya full board dan business class pula. Lha saya?! Naek LCC, ekonomi, harga promo pulak!!

 

Titik awal kemacetan

 

Macet total. Sampai kami bisa keluar jalan-jalan hahaha…

 

Untung… halah… tetep ada untung…

Untung bule yang satunya bisa bahasa Jepang jadi mayan kami tau perkembangan situasinya. Pak sopir stay tuned sama radio. Dan ketika udah bisa jalan dikit-dikit dan pas sampai di salah satu exit, pak sopir nawarin kami 2 pilihan:

  1. Mau dilewati jalan tikus untuk ke stasiun terdekat yang ada kereta ke Narita?
  2. Atau tetep bermacet-macet di tol? Dia akan tetap  antar sekalipun sampainya besok.

Si bule Amerika dan saya bengong. Tapi bule yang satunya udah paham banget sama budaya Jepang jadi dia biasa aja pas ngejelasin ke kami. Orang Jepang apapun pekerjaannya pasti akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Apapun pilihan kami, pak sopir PASTI akan pastikan kami sampai di Narita bagaimanapun caranya.

 

Setelah berunding dan memastikan lagi kalau dari stasiun yang disebut pak sopir ada kereta yang ke Narita, kami sepakat pilih opsi pertama.

 

Cuss… pak sopir langsung keluar tol dan sesampainya di stasiun dia bilang akan tunggu kami sampai kami sudah pasti dapat kereta ke Narita. Trenyuh dong saya… dan lebih trenyuh lagi pas saat bayar. Tarif taksi dari stasiun Tokyo ke Narita adalah fix 15.000 Yen. Nah karena kami terjebak macet berjam-jam jadi kami sepakat untuk bayar lebih. Eh pak sopir malah bilang 8000 Yen saja bayarnya. Dia malu karena gak bisa selesaikan tugasnya dengan sempurna. Duhhh… rasanya pengen saya peluk bapak itu!!!

 

Terjadi eyel-eyelan sebentar. Pak sopir tetep kekeuh untuk terima 8000 Yen saja. Akirnya kami ngalah. Kami balas budi dengan kirim email pujian ke perusahaan taksinya. Emailnya setelah sampai tujuan masing-masing… karena dari stasiun masih banyak drama lain. Khususnya untuk saya.

 

Jadi… si cowok Jepang batalin rencananya untuk ke Korea. Dari stasiun dia pulang. Si bule Amerika berhasil ngejar pesawatnya. Bule yang satunya ketinggalan pesawat tapi dapet tumpangan nginep di rumah temannya yang dekat airport. Saya? Saya terlunta-lunta di Narita. Pertama sibuk cari surat dari Japan Rail tentang kereta yang gak beroperasi. Ini demi asuransi. Abis itu saya nunggu kabar tentang jadwal pesawat ke Singapore. Saya harus segera balik karena harus kerja. Tapi dasar nasib sial ya… saya dapatnya pesawat yang berangkat 2 hari berikutnya. Trus… selama 2 hari itu ngemper di Narita.

 

Asuransi perjalanan sebenarnya cover biaya hotel jika terjadi sesuatu yang diluar kendali traveler. Tapi SEMUA hotel yang dekat airport udah fully booked. Mau balik ke kota saya ogah kalau harus berdrama-drama lagi di tol. Jadi saya ngemper bareng banyak orang. Petugas airport keliling kasih kami sleeping bag, air mineral, dan biskuit.

 

Sampai di Singapore saya langsung ke dokter. Demam gak karuan. Kombinasi antara capek + udara dingin + tidur di lantai = tepar.

 

Pak sopir nanya apa saya perlu ke toilet. Sama nyodorin ini… portable toilet buat cewek kekeke…

 

Singgasana saya di Narita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *