SERBIA – TRAIN TICKET AND BORDER CROSSING

 

Karcis.

Booking tiket kereta di Hungary bisa dilakukan secara online tapi tetap harus tukar/ ambil tiket keretanya di stasiun karena print at home ticket tidak diterima.

Karena percuma booking online dan saya memilih kereta yang bukan rute padat maka saya memilih untuk membeli tiket ke Beograd langsung di stasiun.

Loket penjualan ticket internasional di stasiun Keleti ada disebelah kiri pintu masuk. Kita perlu ambil nomor antri dulu.

‘One way ticket to Beograd for today please.’

Ibu dibalik loket mengulang permintaan saya, memberitahu harga ticketnya, lalu urek-urek lamaaaa… saya pikir dia nyambi mengerjakan sesuatu sambil menunggu komputer dan printer memroses ticket saya.

Dan inilah yang saya terima… karcis!

Ini untuk perjalanan internasional lho tapi masih tulisan tangan hihihi…

 

 

 

 

Stay Cool, Calm, Confident.

‘Indonesia!’ Teriak polisi perempuan yang memeriksa passport saya pada rekannya. Lalu tersenyum sinis sambil terus membolak-balik lembaran di passport saya.

‘Indonesia?’ Tanya rekannya sambil ikut melihat lembaran passport saya. Lalu mereka berdua tersenyum sinis.

Passport saya di scan lalu mereka berdiskusi dalam bahasa yang sama sekali tidak saya mengerti. Mereka mencocokkan foto di passport dengan muka saya. Scan passport lagi. Dan mencocokkan foto lagi.

Mampus. Ini pasti passport saya tidak bisa di scan. Sudah beberapa kali terjadi.

‘Do you have other ID with photo?’ Tanya salah satu petugas yang paling cantik.

Saya tunjukkan ID Singapore yang photonya pakai photo 5 tahun lalu.

‘What’s this? Why Singapore?’ Tanyanya lagi sambil mencocokkan photo di ID dengan muka saya.

Saya jelaskan bahwa saya tinggal di Singapore. Saya sebenarnya bawa KTP Indonesia tapi photonya jaman rambut saya keriting dengan poni Dora.

Masalah dengan photo di passport memang sering terjadi. Photo saya di passport jaman masih pakai kawat gigi. Jadi ya beda dengan muka saya sekarang yang mirip Jennifer Lopez.

‘We have to take your finger prints.’ Katanya sambil menyodorkan portable scanner. Baru kali ini saya lihat portable scanner untuk passport dan sidik jari.

‘You have to go to the police station.’ Katanya setelah diskusi panjang dengan rekan-rekannya.

Saya ambil ransel saya lalu mengikuti mereka turun dari kereta. Tips untuk tidak memperkeruh masalah di border control adalah dengan stay cool: senyum sedikit di awal, diam, menjawab hanya jika ditanya, tidak menjelaskan hal yang tidak ditanyakan. Stay calm: nervous hanya menimbulkan kecurigaan. Stay confident: tunjukkan bahwa kita tahu tentang proses imigrasi, hak dan kewajibannya.

Di kantor polisi passport saya dikerubungi banyak polisi. Orangnya malah disuruh tunggu diluar.

Saya lalu disuruh masuk sebuah ruangan yang penuh dengan komputer, scanner dan monitor camera pengawas. Disana saya ditanya lagi tentang tujuan, rencana, ticket kereta dll. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah berkali-kali mereka tanyakan sewaktu di kereta.

Gemes memang ditanya pertanyaan yang sama berkali-kali oleh orang yang sama. Tapi itu cuma game. Kalau jawaban kita berubah berarti perlu dicurigai.

Saya disuruh menunggu di ruang yang saya photo ini. Sebelum masuk saya tanya ke petugas cantik ada masalah apa. Itu pertanyaan pertama dan satu-satunya yang saya lontarkan. Dan seperti biasa… tidak ada jawaban. Terima saja. Berhadapan dengan petugas imigrasi harus jaga emosi. Stay calm.

Saya lihat 1 keluarga juga ada masalah di perbatasan. Masing-masing dari mereka diberi gelang mungkin semacam pertanda. Tidak lama seorang lelaki digiring masuk oleh 3 polisi laki-laki. Dia mencoba berbicara dengan salah satu dari keluarga tadi. Polisi menyuruh dia masuk ruang tempat saya menunggu lalu mengunci pintu.

Nice. Saya berada di suatu ruang dengan seorang lelaki yang tidak berhenti mengeluh dan memaki. Untung dia bisa sedikit bahasa Inggris jadi saya bisa tanya-tanya.

Dia orang Kosovo tapi pemegang passport Serbia. Dia dalam perjalanan dari Vienna ke Beograd. Dan katanya hal ini selalu terjadi.

‘You will stay here. Here, with me. They (police) are crazy.’ Katanya.

‘That’s fine. I take that bed (menunjuk kasur yang tampak di photo) and you sleep there (menunjuk kasur satunya yang tidak terlihat di photo).’ Saya tidak keberatan kalau harus tidur di ruang itu. Bersih, hangat, ada tivi dan kamar mandi dalam pula.

Saya dipanggil ke ruang scanner untuk di scan sidik jari tapi komputernya hang. Saya diantar lagi ke ruang tunggu. Menunggu lagi sambil mendengarkan keluhan teman baru saya.

‘They want money.’ Katanya. Well… jika itu benar maka saya memilih untuk tidak cross border. Masih banyak negara Schengen yang belum saya datangi.

Saya dipanggil lagi untuk sidik jari. Komputernya hang lagi.

‘You are OK. no problem. We have new system so we want to test it.’ Kata polisi cantik mungkin kasihan melihat saya kecapekan.

Oh what a great information! Jadi mereka memilih saya untuk mencoba system baru yang mereka punya. Saya tersanjung jadi orang pilihan. *sigh

Ketika menjelaskan alasannya baru saya lihat kalau mbak polisi cantik pakai eye liner hanya di mata kiri hihihi…

Saya diantar lagi masuk ke ruang tunggu. Lama menunggu lalu datang seorang bapak botak dikawal 2 polisi laki-laki. Saya lihat dia memegang passport saya.

Dia memberi isyarat untuk saya tetap duduk dan menghadap dia. Gak suka banget dweh! Orangnya kecil tapi ngeri. Pantaslah kalau jadi komandan kantor polisi.

Berkali-kali dia mencocokkan photo passport dengan muka saya. Lalu beranjak pergi masuk ke ruang scanner.

2 jam kemudian saya dengar ada kereta datang. Lalu salah satu polisi mengembalikan passport kami dan mempersilahkan kami naik kereta menuju Beograd.

Jadi saya ‘dilepas’ tanpa diambil sidik jari.

Kereta berjalan pelan lalu berhenti lagi.

‘Passport.’ Kata seorang petugas imigrasi yang diseragamnya ada badge dengan huruf Cyrillic. Oh maiiii… ini border control Serbia. Jadi yang tadi rempong dengan sidik jari adalah border control Hungary!!!

‘Indonesia!’ Kata petugas itu.

Jebret!!!

Masuk Serbia tanpa drama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *