ISTANBUL – JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

 

Trip ke Istanbul ini trip tahun lalu. Tepatnya July 2016. Beberapa minggu sebelumnya Turki digoncang serangan teror bom dan tepat sehari setelah saya terbang ke Singapore negara ini dilanda teror yang lebih parah. KUDETA. Kasian banget saya lihat penduduk sana. Apalagi yang mencari rejeki dari pariwisata. Turis pada takut ke Turki. Jadinya tempat wisata sepi, hotel dan hostel pada tutup… perekonomian ambruk. Saya tahu tentang ini bukan dari berita tapi dari penduduk lokal yang ramah-ramah yang mau saya ajak ngobrol. Andai gak denger dari mereka saya gak bakal tau kalau perekonomian mereka separah itu karena mereka tetep murah senyum, ramah, dan semangat menjalani atau mungkint tepatnya… menikmati hidup.

Pesawat saya dari London mendarat di Bandara Sabiha Gokcen di Istanbul sisi Asia. Karena saya sudah janjian untuk ketemu mbak Christina di Istanbul sisi Eropa jadi die-die saya mesti cari transport kesana. Di pesawat saya tanya penumpang sebelah saya tentang kisaran tarif taksi dari Sabiha ke Taksim. Si mbak cantik bilang sekitar 80 Lira atau 400 ribu rupiah. Saya bengong. Mehong amat yakkkk…

Akhirnya saya naik bus umum yang cuma berapa ya… 5 lira?! Lupa.

Sampai di Taksim saya tanya-tanya orang sekitar caranya ke hotelnya mbak Chris. Semua yang saya tanya ramah-ramah banget. Semua mau menolong walau bahasa Inggrisnya patah-patah. Trus saya malah dapet kenalan orang Libya dan Pakistan dan saya diantar naik tram dan bus ke hotel. Tapi tetep sih… dari halte bus mesti naik taksi lagi karena ada jalan yang ditutup untuk perbaikan. Akhirnya bisa juga ketemu mbak Chris setelah sekian lama cuma sapa-sapaan di facebook 🙂

Trus curhat session deh semalaman hahaha…

Besoknya mbak Chris mesti balik Jakarta. Saya naik taksi ke Taksim. Udah book bed di Green House hostel di Taksim. Ini hostel saya suka banget. Walau fasilitasnya gak bagus-bagus amat tapi yang punya ramah dan helpful bangetttt!! Kan ada salah satu tamu yang ultah… eh dikasih surprise party sama pemiliknya. Surprisenya sih cuma cupcake dikasih lilin aja tapi kan dalemmmm… si tamu sampai mewek terharu.

Saya sekamar sama traveler dari Jerman. Ini entah kali berapa dia nginep di hostel itu. Dia cerita kalau sebelum aksi teror terjadi buat book hostel itu tuh susah banget karena pasti fully booked. Sekarang?! Hampir kosong! Tamunya cuma 3. Traveler dari Jerman, Jepang, dan saya.