HO CHI MINH CITY (1)

posted on facebook June 2, 2010

Beberapa minggu sebelum libur Waisak saya cari-cari tiket ke Jogja dan membandingkan dengan harga tiket ke Negara-negara ASEAN. Sempat kepikiran untuk diam di kos menghabiskan long weekend karena tiket pesawat mahal-mahal. Apalagi yang ke Jogja… masa hampir 350SGD… mahal banget!!

 


Seminggu sebelum Waisak akhirnya saya putuskan untuk membeli tiket Lion Air Spore-HCMC-Spore. Dibandingkan dengan Jetstar, Tiger dan lainnya harga Lion Air lebih murah sekitar 50SGD. Tadinya mau beli one way Spore-HCMC lalu baliknya via Phnom Penh pakai Jetstar tapi ternyata Jetstar kalau beli tidak secara online harganya hampir 2 kali lipatnya. Kalau dihitung-hitung harga memang lebih murah beli return ticket tapi kalau soal waktu jelas balik Spore via PP lebih enak karena tidak harus balik HCMC lagi. Tapi saya tetap beli return ticket karena selain harga saya juga kepikiran kalau di border ada masalah dan saya tidak boleh masuk Cambodia saya bisa balik lagi ke HCMC.

Jumat 28 Mei jam 12.05 pesawat take off dari Changi. Rupanya pesawat yang saya tumpangi adalah pesawat transit Jakarta – Singapore – HCM jadi pengumuman-pengumuman dari pramugari pakai bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Banyak penumpang orang Vietnam yang aneh-aneh tingkahnya. Ada yang lempar-lemparan minyak angin, buka meja lipat waktu take off dan meletakkan kepala diatas meja, kursi tidak ditegakkan, penutup jendela diturunkan, memakai telephone di dalam pesawat (dibiarkan saja sama pramugari), dan yang paling parah adalah jalan-jalan sewaktu pesawat sedang take off dan landing. Entah mereka berbuat begitu karena tidak paham sama pengumuman pramugari (yang bahasa Inggrisnya ancur) atau memang bandel merasa sudah bayar jadi bisa seenaknya.
Jam 1 siang pesawat landing di bandara Tan Son Nhat HCMC. Bandaranya kecil tapi modern dan yang bikin iri adalah kebersihannya. Proses di immigrasi juga termasuk cepat. Salut deh dengan petugas imigrasi yang buka banyak counter jadi antrian tidak terlalu panjang.

Keluar dari imigrasi saya langsung ke counter money changer. Nilai tukar Vietnam Dong lebih murah dibandara Vietnam dari pada di Changi. Saya tukar 20USD dan dapat 378.000 Dong. Saya tidak tahu uang itu cukup atau tidak tapi setidaknya saya punya uang kecil untuk naik bus ke kota. Saya tanya ke mbaknya money changer dimana bisa dapat bus ke kota. Si mbak cuma nunjuk arah keluar. Saya jalan keluar dan tanya lagi sama mbak-mbak berseragam seperti pegawai airport dan dia juga hanya menunjuk arah keluar. Saya sebenernya berharap untuk dijelaskan harus kesana, belok kesana, putar kesana atau apalah pokoknya petunjuk yang jelas gitu. Teryataaaa… busnya itu benar-benar ada didepan pintu keluar hehehe…

Di dalam bus ada 2 bapak-bapak sedang ngobrol santai. Mesin bus juga mati. Pikir saya bakalan ngetem lama nih bus. Saya lalu tanya sama mereka ‘Ben Than Market?’ bapak yg satu menjawab ‘Yes. Please…’ gerakan tangannya mempersilahkan saya naik. Sebelom naik saya tanya lagi ‘How much?’ dijawab ‘Swensi minutes’ saya bengong. Tanya how much kok dijawab menit. Saya tanya lagi ‘how much?’ dapat jawaban yang sama ‘Swensi minutes’ kali ini si bapak kasih kode 20 dengan jari tangannya. Ooo mungkin dia kira saya tanya berapa lama sampai ke kota. Saya lalu naik ke bus dan lihat di karcis harganya 3000 Dong. Murah sekali disbanding dengan taksi bisa habis 140.000 Dong.

Cara bayar bus di HCMC hampir sama dengan di Korea. Uang dimasukkan ke kotak di samping sopir. Uang koin boleh… uang kertas juga boleh. Kalau perlu kembalian pak sopir akan pencet-pencet tombol yang mengeluarkan uang koin 5000, 2000 dan 1000 Dong. Harusnya begitu naik harus langsung memasukkan uang ke kotak. Tapi kalau ribet bawa barang banyak boleh duduk dulu atau naruh barang lalu ke depan memasukkan uang.

Si bapak yang bisa bahasa Inggris tanya saya dari mana mau kemana. Dia juga tanya ‘You one person only?’ Saya jawab ‘Yes, i’m alone’ dengan ekspresi terkejut dia bilang ‘Really? I dong think song, you beautiful’. Mungkin maksudnya ‘Masa sih sendiri… kamu kan cantik’ gitu kali ya hehehe… Saya langsung sadar mesti waspada dengan bahasa Inggrisnya orang Vietnam yang suka nyebut kata-kata dengan akhiran ‘ng’ seperti ‘I dong think song’ saya yakin itu pasti maksudnya ‘I don’t think so’.

Tidak lama kemudian ada 2 bule cewek cowok tengak tengok cari bus. Mereka lalu didekati sama bapak yang tadi mengajak ngobrol saya. Nasib 2 bule itu sama seperti saya. Mereka nanya how much dijawab swensi minutes hehehe… Mereka kayaknya tidak yakin itu bus lewat tempat tujuan mereka. Si bapak bilang yes yes saja ke mereka. Terus waktu ditunjukan peta mereka mau ke tempat itu si bapak juga cuma bilang yes yes… dengan muka bingung naik juga mereka.

Sekitar 10 menit kemudian bus mulai jalan melewati terminal domestik tapi tidak berhenti. Entah karena tidak ada penumpang atau memang tidak boleh berhenti disana. Bus berjalan sekitar 40km/jam melewati jalanan HCM yang penuh dengan motor. Kelihatannya semrawut sekali jalanan di HCMC tapi hebatnya tidak ada macet lho… Bus berhenti hanya pas lampu merah saja.

Bule cowok yang duduk didekat saya tanya ‘Will this bus stop at this place?’ sambil menunjukan peta dari buku lonely planet. Saya dengan PDnya jawab ‘I don’t know. But i do know that this bus will stop here’ Saya tunjuk lokasi Ben Than Market di petanya. Dia mantuk-mantuk. Rupanya cukup puas dengan petunjuk saya hehehe… Beberapa menit kemudian dia tanya lagi ‘You do speak english, don’t you? I wanna know if i can reuse this ticket to another trip’ Dia menunjukkan robekan karcis yang dikasih si bapak di bandara tadi. Saya bilang ke dia ‘I don’t know… i’m foreigner too. This is my first time hehe…’ Si bule mlongo. Mungkin dalam hati dia bilang ‘Ni anak bukan orang sini tapi PD banget main tunjuk-tunjuk tempat di peta’.

Waktu bus sampai di Ben Than Market saya siap-siap turun. 2 bule itu juga siap-siap mau turun. Mungkin hotel mereka didaerah yang sama dengan yang saya tuju. Turun dari bus kami disambut beberapa tukang ojek. 2 bule itu tawar-tawaran dan akhirnya setuju memakai jasa tukang ojek. Saya menolak karena saya tahu jalan ke penginapan saya. Sebenarnya tidak jauh lokasi penginapan dari tempat turun bus. Tinggal nyebrang ke taman dan nyebrang lagi ke daerah yang namanya Pham Ngu Lao street. Tapi saya tidak punya nyali menyebrang jalan-jalan besar dengan lalu lintas yang ampuuunnnn… semrawutnya setengah mati! Akhirnya saya putar-putar cari jalan kecil-kecil menuju Pham Ngu Lao street.

 


Sampai di Pham Ngu Lao saya cari Bui Vien street. Ketemu. tapi cari alamat disana ternyata tidak mudah. Alamat penginapan yang saya booking adalah Bui Vien street no 96. Saya susuri Bui Vien street tapi tidak ketemu karena penomoran bangunan disana tidak urut. Kayaknya pakai sistem siapa cepat dia dapat. Atau mungkin suka-suka pegawai agrarianya. Masa no 5 dan no 40 itu hadap-hadapan?! Saya masuki gang-gang kecil diantara Bui Vien street dan Pham Ngu Lao street. Makin bingung saya jadinya. Bangunan-bangunan di situ separuh beralamat Bui Vien dan separuhnya lagi beralamat Pham Ngu Lao. Soal nomor… makin ancur!

Saya putar-putar daerah itu berkali-kali. Lalu ada ibu-ibu yang tanya ‘Where you go miss? Can i help?’ Agak lega saya dengar ada yang bisa ngomong Inggris. Saya lalu tanya ke ibu itu no 96 dimana. Trus dia bilang ke mas-mas kayaknya menyuruh dia mengantar saya ke no 96. Saya ikuti si mas yang jalannya super cepat itu ke arah utara. Jadi ternyata Bui Vien street itu panjang dari utara ke selatan. Beda banget seperti yang digambar di peta.

Sampai di penginapan saya bilang ke receptionistnya kalau saya sudah booking. Tapi ternyata tidak ada nama saya di kitab besar yang dia punya. Wah tahu gitu tadi saya ambil hotel yang saya lewati tadi. Si mas menunjukan saya kamar-kamar yang available. Tidak ada jendela tapi bersih dan murah. Hanya 10USD semalam. Oya tips kalau cari hotel/ penginapan murah di HCM dan PP mesti lihat dulu kondisi kamarnya. Kalau OK bayar… kalau tidak OK tinggal pergi saja.

Waktu bayar receptionist minta paspor saya. Karena paspor baru ada di kamar jadi saya kasih dia paspor lama saya. Dia lalu menyelipkan uang 10USD kedalam paspor saya. Tanpa tanda terima tanpa dicatat. Cuma begitu saja prosesnya saya bisa sewa kamar. Setelah istirahat sebentar saya jalan-jalan disekitar penginapan. Tadinya mau ke Ben Than Market tapi lagi-lagi gagal karena saya tidak berani menyebrang hehehe…

Sore hari di taman depan Pham Ngu Lao street banyak orang jualan makanan. Tapi sore itu saya tidak beli apa-apa karena harus jaga perut. Tidak berani makan yang tidak bersih karena besoknya mau naik bus ke PP. Malem itu saya mau coba makan di restoran Vietnam tapi mikir-mikir kalau tidak cocok lalu mulas-mulas bisa gawat. Akhirnya saya makan di KFC hehehe… murah lho nasi, chicken fillet, soup kentang-wortel, soft drink cuma 29.000 Dong ato sekitar 2.30SGD.

 


Setelah makan saya jalan cari agent yang jual tiket bus ke PP. Pertama saya ke Sapaco Tour. Tiket bus 12USD, visa on arrival Kamboja 24USD. Saya bayar untuk bus yang jam 7 pagi. Setelah semua OK tiba-tiba masnya ticketing yang agak melambai itu bilang kalau jam 7 sudah abis. Dia tanya ‘Only at ngain AM available’is it OK?’ Saya bengong… Ngain apaan sih? Saya tanya ‘Nine AM?’ Dia jawab ‘Nooo… ngaaain AM’ Saya tanya lagi ‘Nine AM??’ Sambil menunjukan 9 jari tangan. Dia bilang ‘NOOOOO! Ngainnnnn….’ Kali ini dia menunjukan 8 jari tangan. Astagaaa… jadi ngain itu adalah eight…. Sialan bener nih mas-mas. Pronounce Inggris salah tapi sewot! Akhirnya saya bilang ‘No! 8AM is too late. Gimme back my money please’ Lalu saya langsung beranjak dari tempat itu.

Saya jalan ke arah selatan dan nemu agent entah apa namanya. Yang jual tiket mbak-mabk ramahhhh banget. Inggrisnya juga bagus dan harga tiketnya cuma 10USD. Tapi ongkos visa on arrivalnya lebih mahal sih 25USD. Saya akhirnya beli tiket ditempat mbaknya ini. Saya berkali-kali tanya ke dia besok saya kesini atau kemana buat cari busnya. Katanya nanti busnya parkir tepat di depan kantornya jadi besok jam 7.15 tunggu di depan saja. Katanya sih bus berangkat jam 7.30 tepat jadi jangan sampai telat datangnya.

Setelah dapat tiket saya ke hotel Asian Ruby 3. Rencananya sih mau ketemu sama teman milis backpacker yang menginap disitu tapi ternyata pesawat dia dari jakarta delay dan malam baru sampai. Lumayan juga sih saya tunggu di lobby hotel yang nyaman itu sambil lihat-lihat jalanan HCMC. Karena jam 9 teman saya tidak datang juga saya lalu kembali ke penginapan. Malam itu receptionist nya ganti. Ibu-ibu yang tadi pagi sudah tidak kelihatan lagi. Saya bilang ke yang jaga ‘Tomorrow i’ll check out at 7 in the morning. Sharp!’ Dia cuma jawab ‘OK’. Malamnya saya tidur nyenyak tidak nyenyak karena kepikiran besok pagi harus bangun pagi biar tidak telat.

Saya sukses bangun pagi. Siap-siap. Beres-beres. Selesai jam 6.30. Saya lalu keluar beli roti di Circle K dan balik lagi ke kamar. Sarapan roti sambil nonton tivi tidak jelas. Jam 7.10 saya turun untuk check out. Di dekat meja reception ada ibu-ibu agak gendut dengan make up tebal tapi masih pakai daster (mungkin yang punya penginapan) didepannya mbak-mbak ndeprok di lantai sambil melipat baju-baju dan memasukkannya ke dalam tas. Ada mbak 1 lagi yang sedang bersih-bersih. Saya belum pernah lihat ketiga orang itu. Saya jadi bingung mau bilang ke siapa kalau saya mau ambil paspor. Ketiga orang itu cuek saja tidak ada yang tanya saya mau apa. Tadinya mereka bercakap-cakap biasa tapi makin lama nadanya makin tinggi. Lalu si ibu gendut bentak-bentak gitu. Si mbak yang duduk dilantai menangis. Si mbak bersih-bersih ngomel.

Saya colek si mbak yang bersih-bersih. Saya bilang ‘I wanna check out. I need my pasport.’ Dia cuma melirik sekilas lalu ngomong sesuatu ke si ibu gendut. Si ibu cuek. Makin keras dia bentak-bentak. Saya colek si ibu gendut ‘My pasport please!’ Dia cuma melirik!!! Aduhhhh… nih orand-orang pagi-pagi sudah bikin scene… mana saya harus mengejar bus….

Saya colek lagi si ibu ‘MY PASPORT!’ Kali ini tanpa melirik. Dia melanjutkan bentak-bentak si mbak. Saya tunggu sedetik… dua detik… saya dekati dia dan melambaikan tangan TEPAT di depan mukanya ‘PASPORT!!’ Dia beranjak ke meja receptionist sambil tetap bentak-bentak. Saya pikir dia bakalan ambil pasport saya. Ternyata… dia berhenti di depan meja lalu menuding-nuding si mbak. Si mbak makin keras tangisnya. Si mbak bersih-bersih entah minggat kemana. Saya lambaikan tangan lagi di depan mukanya ‘MY PASPORT!! I NEED MY PASPORT!’ Waktu saya bilang itu ada bule agak tua bawa ibu-ibu lokal masuk. Mungkin mereka suami istri atau pasangan tidak resmi entahlah… Saya mikirnya si bule tau sedikit tentang bahasa Vietnam jadi siapa tahu dia bisa bantu saya.

Karena si ibu gendut tetap saja tidak mengambil pasport saya, saya lalu colek-colek dia lagi sambil bilang keras-keras kalau saya mau ambil pasport saya. Lalu si ibu gendut nengok ke saya dan bilang ‘Ngum ngambe?’ Saya bengong. Saya nengok ke si ibu yang tadi masuk bareng bule. Si ibu memandang saya dengan muka lempeng. Saya bilang ke si ibu gendut ‘pasport’ dia bilang ‘Ngum ngambe?’ Gituuuu terus… saya kan tidak tahu ngum ngambe itu apa artinya.

Si bule yang lagi main komputer di deket situ (sok tau) bilang ke saya ‘She ask you what’s your name’ Saya lalu bilang ‘Kurniawati. My name is Kurniawati.’ Saya tahu itu percuma karena pasti dia juga tidak tahu gimana tulisan Kurniawati. Si ibu gendut tetap saja ‘Ngum ngambe-ngum ngambe’ terus… Tebak-tebak buah manggis saya bilang ‘304’ Lalu dia buka-buka laci dan ambil beberapa paspor. Jadiiii… ngum ngmbe itu adalah rum nambe(r) alias ROOM NUMBER!!!

Astagaaa… Gara-gara ngum ngambe saya hampir telat naik bus….

Begitu dia kasih pasport saya langsung lari ke agent bus yang semalam. Kantornya buka tapi tidak ada orang. Saya lihat foto busnya warna biru dengan tulisan-tulisan Khmer di kaca depan. Saya cari bus yang mangkal di dekat situ yang mirip dengan bus di foto. Ketemu. Tapi ternyata beda. Di tiket saya ditulis Kumho. Bus yang saya liat RAC. Beda. Saya tanya bus Kumho dimana dan dapat jawaban yang hampir bikin pingsan ‘Bus Kumho 1 mil dari sini.’

Saya balik lagi ke kantor agent. Ada bapak-bapak yang kemudian mengantar saya cari busnya. Sebenarnya acara cari bus tidak terlalu bikin capek. Tapi nyebrang-nyebrangnya itu yang benar-benar bikin frustasi. Mana waktu itu sudah hampir jam 7.30. Akhirnya dapat juga bus Kumho yang ke PP. Begitu saya duduk bus langsung jalan. Tepat pukul 7.30! Wah salut sama ketepatan waktu orang-orang Vietnam.

Cerita perjalanan melewati border Moc Bai – Bavet…. dilanjut besok-besok ^^
.