ECUADOR – BANOS, ALAUSI, CUENCA

Banos – capital of adventure
Informasi tentang jadwal bus di Ecuador tidak gampang diperoleh. Saya harusnya naik bus dari Otavalo ke Quito terminal utara atau Terminal Norte Carcelen (baca: karselen) lalu naik bus lagi yang ke terminal selatan atau Terminal Quitumbe (baca: kitumbe) dan cari bus yang ke Banos. Tapi saya baca di internet ada bus dari Ibara langsung ke Banos. Ibara adalah kota di utara Otavalo, sekitar 30 menit dengan bus. Sampai di terminal bus Ibara saya baru tahu bahwa bus ke Banos hanya ada 2 kali sehari dan salah satunya berangkat jam 2 siang.
Saya tidak bisa menunggu bus yang jam 2 siang karena sampai Banos sudah gelap. Akhirnya saya naik bus yang ke Quito alias balik lagi melewati Otavalo. Sampai di Quito Terminal Norte Carcelen saya turun dan beli tiket bus untuk ke Terminal Quitumbe. Ternyata… busnya sama! Jadi bus dari Otavalo juga sampai di Terminal Quitumbe. Sopir dan kernet bus senyum-senyum melihat saya 🙁
Quito Terminal Quitumbe besar sekali. Mirip bandara. Berikut fotonya:
Di bus menuju Banos saya berkenalan dengan Edwin, pemuda dari Puyo suatu kota di daerah Amazon. Dia umur 21 tahun tapi sudah jadi guru SD mengajar Matematika dan IPA. Bahasa Inggrisnya bagus sekali. Rupanya dia berasal dari keluarga berada dan bisa sekolah di sekolah bagus. Kakak perempuannya sedang kuliah kedokteran di Cuba. Edwin baru sekali keluar negeri yaitu ke Cuba menjenguk kakaknya. ‘Aku iri sama kamu yang sudah ke berbagai negara’, katanya. Saya bilang: ‘Aku iri sama kamu yang bisa masuk Cuba’.
Saya sebenarnya sudah usaha untuk bisa mengunjungi Cuba. Tapi untuk mengajukan aplikasi visa di kedutaan Cuba di Jakarta saja tidak bisa. Salah satu syaratnya adalah konfirmasi akomodasi selama di Cuba. Saya email ke banyak Casa Particulares (rumah penduduk yang disewakan) tapi tidak satupun yang membalas email saya. Saya telepon minta email konfirmasi dijawab ‘kami tidak bisa mengirim email karena internet sulit’. Salah satu teman memberikan kontak hotel di Havana tempat dia menginap dulu. Saya tidak menghubungi hotel tersebut. Memang tidak mau tinggal di hotel karena uang saya akan masuk ke kantong pemerintah. Beda dengan menginap di casa particulares yang uangnya bisa dinikmati pemilik rumah.
Kembali ke Edwin 🙂 dari dia saya tahu bahwa dari Banos ke Alausi (tujuan saya berikutnya) saya harus ke Riobamba dulu. Duh… bolak-balik artinya. Saya ke Banos niatnya untuk bermalam sebelum melanjutkan ke Alausi. Tahu begini saya harusnya berhenti di Riobamba saja.
Banos adalah kota kecil yang dikelilingi pegunungan dan banyak kegiatan alam seperti trekking, rafting, bungy jumping dll yang bisa dilakukan di daerah sekitar Banos. Di pusat kota mudah dijumpai tour agent yang selain menyediakan paket adventure juga menyewakan alat camping, rafting bahkan 4×4 motor.
Turis yang saya jumpai di Banos semua berbadan fit. Mereka adalah pengunjung yang memang siap menerima tantangan alam Banos. Tidak seperti saya yang hanya mampir semalam saja.
Alausi – Nariz del Diablo (The Devil’s Nose Train)
Dari Banos saya naik bus ke Riobamba lalu ganti bus lain menuju Alausi. Saya lupa nama bus nya. Ketika di terminal Riobamba saya dengar orang meneriakkan Alausi. Saya langsung naik ke bus dan bayar ongkos langsung ke kernetnya. Bus ini memang melewati Alausi tapi tidak berhenti di terminalnya. Saya diturunkan di tepi Pan American Highway dan ditunjukkan arah menuju pusat kota.
Alausi kotanya kecil sekali. Terminalnya saja di tengah deretan ruko. Satu hal yang terkenal dari kota ini adalah kereta yang menuju Sibambe yang disebut Nariz del Diablo atau The Devil’s Nose. Dulu kereta ini bisa dinaiki dari Riobamba tapi karena rel dari Riobamba rusak jadi kereta ini hanya melayani jalur Alausi – Sibambe.
Nariz del Diablo dari berangkat dari Alausi ke Sibambe Selasa sampai Minggu jam 8 pagi, 11 pagi dan jam 2 siang. Lama perjalanan bolak balik sekitar 2,5 jam. Harga tiket bolak balik 25 USD. Kereta ini memang ditujukan untuk turis. Di stasiun Sibambe ada pertunjukan tarian tradisional, toko souvenir, cafe, dan museum. Jika suka hiking kita bisa beli tiket sekali jalan lalu kembali ke Alausi jalan kaki.
Di Alausi ada beberapa hotel dengan harga yang cukup mahal. Saya menginap di hostel Kila Wasi yang booking nya cukup dengan email. Hostel ini lumayan jauh dari pusat kota tapi naik taxi cukup murah, hanya 1 USD saja. Harga untuk bed di kamar dorm hanya 8 USD. Saya betah di hostel itu karena pemiliknya ganteng 😉 Victor namanya. Ayahnya asli Alausi tapi dia lahir di US. Dia dan anak perempuannya tinggal di rumah yang dikelilingi kebun buah dan jagung. Luna, anak Victor aktif sekali. Pulang sekolah dia memberi makan 2 anjing, ayam dan guinea pig lalu blusukan di kebun bermain dengan bebek dan kalkunnya. Saya suka ikut main di kebunnya karena bisa metik dan makan jeruk mandarin sepuasnya 🙂
Cuenca – is this Europe?
Dari Alausi ada bus langsung ke Cuenca (baca: kuenka). Jadwal yang ada di internet dan di Tourist Information beda dengan jadwal di terminal. Untuk bus di Ecuador saya sarankan cek langsung jadwal dan harga di terminal bus. Saya naik bus yang jam 10 pagi dan sampai di Cuenca jam 3 sore.
Di terminal bus Cuenca ada Tourist Information Center. Dari petugas judes di sana saya disarankan untuk naik bus Super Semeria jika ingin cross border ke Peru. Bus Super Semeria melayani rute Cuenca – Piura – Chiclayo berangkat tiap hari jam 10 malam. Ketika saya tanya di konter Super Semeria ternyata masih ada kursi untuk ke Chiclayo untuk malam itu. Saya juga bisa menitipkan ransel disana. Akhirnya saya putuskan untuk tidak menginap di Cuenca tapi langsung ke Peru malam itu juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *